Situ Bagendit di waktu pagi memang sangat indah, diselingi kabut pagi yang mulai beranjak pergi ditemani sang penarik sampan yang mencoba peruntungan dengan menjala ikan & udang-udang kecil, di sebelah utara Gunung Guntur yang mulai terbangun bersamaan dengan senyuman sang mentari pagi.

Situ Bagendit adalah telaga atau danau yang terbentuk karena proses alam yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Sejak zaman Belanda hingga kini Situ Bagendit menjadi salah satu obyek wisata di Garut yang cukup dikenal dan banyak dikunjungi wisatawan. Telaga ini terletak di wilayah Kecamatan Banyuresmi, Garut. Dari Kota Garut, Situ Bagendit bisa ditempuh melalui jalur kendaraan Garut-Leuwigoong-Limbangan dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Situ Bagendit dikenal bukan hanya karena panoramanya yang indah, tetapi juga dikenal karena legendanya yang sangat mashur. Menurut cerita rakyat setempat, telaga ini terbentuk karena sifat kikir Nyi Endit, janda kaya raya yang mendapat celaka karena terlalu sayang pada harta. Suatu saat datanglah seorang kakek-kakek yang sangat kelemahan lalu memohon agar ia dikasihani karena selama ini belum mendapat makan. Mendengar rintihan kakek itu bagi Nyi Endit bukan timbul rasa belas kasihan tapi malahan ia sendiri yang marah, sehingga kakek-kakek itu diusir dari hadapannya.

Besoknya lagi kakek-kakek itu datang lagi sambil mengingatkan Nyi endit agar ia mau menolong orang yang membutuhkan tapi hatinya sekeras batu lalu ia usir kembali. dan untuk Ketiga kalinya, kakek itu datang kembali dan ia pun langsung mengusirnya. wajah sang Kakek mulai berkaca-kaca, hatinya sakit, maka ditancapkanlah tongkat miliknya di halaman rumah Nyi Endit, lalu kakek itu pergi entah ke mana. Jangankan orangnya tongkatnya pun sangat mengganggu bagi Nyi Endit. Lalu ia pegang dan mencabutnya seketika itu pun ia kaget karena melihat air yang keluar begitu besar. Makin lama air yang keluar makin besar sampai menggenangi rumah dan harta kekayaannya, lalu berubah menjadi telaga, sehingga dinamakan Situ Bagendit yang diambil dari nama Nyi Endit.

Di telaga ini pengunjung bisa menikmati pemandangan yang cukup indah. Di sebelah utara, Gunung Guntur menjadi latar pemandangan yang menyejukkan. Bukit-bukit di sekitarnya juga membuat telaga ini terlihat asri. Pengunjung dapat pula lalayaran menggunakan rakit atau perahu

Di pinggir telaga tersedia pula berbagai pasilitas hiburan. Bagi anak-anak tersedia kereta mainan yang mengelilingi area wisata Situ Bagendit dan berbagai fasilitas bermain lainnya. Bagi pengunjung yang ingin menikmati kesejukan Situ Bagendit, tersedia lahan-lahan kosong untuk bercengkrama dan menikmati pemandangan.

Bukan saat ini saja Situ Bagendit dikenal sebagai tempat wisata. Bahkan pada jaman Belanda, Situ Bagendit adalah obyek wisata yang mampu menarik perhatian turis mancanegara. Di sinilah pada tahun 1920 pernah berdiri sebuah hotel lengkap dengan segala fasilitasanya. Sayang hotel itu kini tinggal puing-puingnya saja. Salah satu bekasnya adalah bangunan tua berterali besi yang mirip ruangan penjara. Akibat Perang Dunia Kedua, kawasan wisata Situ Bagendit hancur total. Telaga ini terbengkalai untuk beberapa tahun lamanya, tidak terawat, dan lebih mirip rawa liar yang ditumbuhi lautan ilalang dan eceng gondok. Baru pada tahun 1980-an ada upaya-upaya untuk mengembalikan telaga ini menjadi kawasan wisata.

Telaga yang luasnya sekitar 125 hektar ini kemudian dibersihkan dari tumbuh-tumbuhan liar. Debit airnya diupayakan terus ditambah. Pengerukan dilakukan untuk mengatasi pendangkalan. Berbagai kegiatan wisata kembali dihidupkan, di antaranya dengan menggelar festival Bagendit setiap tahun.
Memasuki tahun 2000-an, Pemerintah Daerah berupaya menjadikan kawasan wisata Bagendit sebagai wisata unggulan, terutama untuk meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Berbagai fasilitas disediakan. Baik fasilitas umum maupun fasilitas untuk menarik kunjungan wisatawan. Di antaranya rakit bambu, perahu angsa, perahu bargas, kereta api mini, dan kolam renang. Bahkan Pemda berupaya mengundang investor yang mau mengelola kegiatan pariwisata di Bagendit secara profesional. Terbukti pariwisata di Situ Bagendit mulai dirasakan denyutnya.

Namun untuk mengundang wisatawan asing datang ke sini, butuh upaya lebih keras dan promosi yang intensif. Saat ini pengunjung Situ Bagendit umumnya wisatawan domestik yang datang ke sana secara musiman. Misalnya saat hari raya atau liburan sekolah.

Masalah lain yang kemudian muncul adalah terus berkurangnya sumber air untuk menambah debit air telaga alam ini. Karena lingkungan sekitarnya banyak dijadikan pemukiman penduduk dan perladangan, sumber-sumber air untuk mengairi Situ Bagendit semakin berkurang. Tak aneh jika di musim kemarau telaga ini menjadi kering kerontang, seperti terjadi pada musim kemarau panjang tahun 2006 lalu. Jika ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin Situ Bagendit akan dilupakan orang.

Sumber Referensi: Garutpedia & Sumber lainnya
Sumber Photo: Koleksi pribadi &  Tropenmuseum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s