Bandung, 17 januari 2010

Seperti biasa menikmati keindahan alam dengan biaya murah, namun meninggalkan kesan yang mendalam. Setiap langkah kaki yang saya jejakan, setiap peluh keringat yang saya keluarkan menjadi saksi bisu betapa jauhnya perjalanan tidak menghalangi saya untuk menikmati indahnya alam ini.

Wana wisata Batu Kuda memiliki Luas 20ha termasuk dalam Kabupaten Bandung, Kecamatan Ujung Berung, Desa Cibiru Wetan. Terletak pada ketinggian antara 1.150-1.300m dpl, konfigurasi lapangan umumnya bergelombang, kawasan ini mempunyai curah hujan 2.000mm/th dengan suhu udara antara 19-27C.

Perjalanan saya mulai sekitar jam 3 subuh dari daerah cicaheum, naik angkot sekitar 15 menit dan berenti disekitar daerah Cibiru. Perjalanan p saya mulai beserta 3 sahabat saya (Shela, taufik, & Yanuar). melewati jalan perumahan yang gelap sambil sesekali berbalik melihat indahnya kerlap-kerlip lampu di kota. berjalan dan terus berjalan melewati beberapa daerah seperti cinunuk hingga akhirnya sampai di gerbang wana wisata Batu Kuda setelah 2jam berjlan kaki.

Tujuan kami adalah puncak Gunung Manglayang yang berjarak 2Km dari pintu masuk, tentu untuk melihat sang mentari bangun dari tidur lelapnya. Kami memang tidak benar-benar menuju puncaknya, tetapi kami mencari posisi yang ideal untuk melihat sang mentari. Lereng dengan kemiringan >45 derajat ditambah angin yang bertiup cukup heboh membuat kami harus mencari posisi aman.

Kami sedikit kecewa karena sang mentari yang sudah kami tunggu terhalang oleh awan hitam yang cukup tebal, namun kami tidak menyesalinya karena semburan kuning, jingga kemerahan berada didepan kami. indah & takjub, dua kata yang bisa saya sebutkan atas keindahan sang maha pencipta.

Selang beberapa waktu kami diberi suguhan lainnya, yaitu sang pelangi yang menandakan para bidadari dari khayangan sedang mandi, namun itupun hanya sekilas & sebentar. Dalam hati saya berpikir mungkin karena sungai di bandung sudah banyak yang tercemar para bidadari pun mengurungkan niatnya untuk mandi makannya pelanginya pun hanya sekilas saja.

Setelah puas menikmati sang mentari, kami memutuskan untuk mengunjungi situs Batu Kuda yang Pada tahun 50-an sebelum terjadi longsor kedua. Gunung Manglayang sangat angker. Penduduk tidak berani mendekati apalagi memegang tempat yang memiliki nilai historis, diantaranya batu kuda.

Dan lagi-lagi menurut penduduk setempat, gunung Manglayang pada zaman dahulu merupakan tempat bertapanya Eyang Layang Kusumah (istrinya). Manglayang merupakan tempat persinggahan kedua Eyang itu yang tidak diketahui asal dan tujuannya. Mereka selalu beristirahat dan bertapa serta memandikan kuda yang dapat terbang dan sakti, penduduk menyebutnya Kuda Semprani-digedogan (tempat pemandian kuda). Manglayang menyimpan banyak hal historis tentang batu-batuan besar diantaranya yang menurut penduduk setempat didiami para karuhun (leluhur). Dibatu-batuan inilah, berbagai sesaji disimpan untuk persembahan. Sebagai rasa hormat kepada karuhun mereka. Batu-batuan itu diantaranya bernama batu kuda yang mempunyai bentuk seekor kuda yang sedang duduk. Penduduk memitoskan dan mengutuskan Batu kuda sebagai jelmaan kuda semprani yang digunakan Eyang Layang Kusumah dan istrinya.

Ada suatu cerita yang mengatakan bahwa, pada suatu hari ada seseorang yang tidak menghargai adat istiadat setempat. Dia malah manaiki dan tidur diatas Batu Kuda. Ketika pulang orang tersebut mengalami penyakit yang sukar disembuhkan. Penyakit tersebut hanya dapat disembuhkan jika dia kembali ke Gunung Manglayang dan meminta maaf, melalu kuncen (perantara). Nilai historis lainnya juga terlihat pada longsor kedua tahun 1976. Suatu hal yang sulit terbaca logika. Batu kuda yang mempunyai volume 500 meter kubik dapat menahan longsor yang tekanan dan jumlah tanahnya lebih besar sehingga daerah Cikoneng yang berada dibawah batu tersebut tidak terkena longsor.

Batu-batuan diantaranya bernama Batu Tumpeng, Batu Leuit, Batu Semar, Batu Keraton, Batu Ampar, Batu Korsi dan Batu Lamunan, Batu pasir Jirak, Pasir Kitumbak, curug kecapi, curug Cilengkrang dan curug pamujaan. Dibatu-batuan dan tempat itulah acapkali digunakan sebagai tempat pemujaan dan sesaji.

Satu yang menjadi ciri keberadaan Batu kuda adalah sebuah saung (Rumah kecil dari bilik), dari saung ini kita tinggal berjalan sekitar 30 meteran karena berada dibalik pohon dan semak membuat pengunjung yang baru pertama kali kebingunan mencari dimana batu kuda ini berada. batu ini bersandar pada sebuah pohon & dipohon itu pulalah terdapat tulisan batu kuda yang sudah dipenuhi jamur dan miring karena salah satu pakunya sudah copot.

Selesai menikmati dan mengamati kami memutuskan pulang melewati daerah Jatinangor yang berjarak 3Km dari dari Pintu gerbang tadi. Cukup jauh & melelahkan ditambah lagi sang pasukan serangga dengan motif hitam putih terus mengikuti kami dan membunyikan suara khasnya ” nguuuuiiiing nguuuuuuuuing”.

Tak terasa kamipun keluar juga dari hutan dan memasuki Kawasan Bumi Perkemahan serta area bermain golf yang cukup luas. Perjalanan terasa semakin berat karena panasnya sang mentari sudah terlalu, dengan semangat yang masih tersisa kamipun terus berjalan hingga sampai di pasar minggu kawasan Unpad dekat dengan jam menara peninggalan Belanda. Kami putuskan naik angkot tentu setelah menghilangkan rasa haus dengan segelas cendol yang tak smapai 1 menit saya habiskan.

“Perjalan ini memang sangat melelahkan, namun semua terbalas dengan indahnya pemandangan yang kami dapat dan dalam perjalan berikutnya semoga lebih indah lagi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s