Ular besi dengan gagahnya melintasi pesawahan, asap tebal membumbung tinggi sebagai penanda kedatangannya, hiruk pikuk didalam kereta memberikan cerita tersendiri, suara tangisan bayi, teriakan pedagang asongan, irama merdu sang penyanyi jalanan ditambah aroma keringat yang menyengat membuat siapapun takkan pernah lupa akan ular besi ini, belum lagi kedatangannya yang sangat dinanti-nantikan penduduk. Dalam perjalanan kali ini saya akan mencoba menyusuri masa kejayaan si ular besi tersebut dengan memulai perjalanan dari  Soreang hingga Ciwidey.

Pada awalnya hanya untuk menghubungkan daerah Bandung dengan daerah-daerah yang menjadi sentra perkebunan itulah salah satu tujuan dibangunnya  jaringan kereta api lintas cabang di Bandung dan khusunya jalur Bandung-Ciwidey. Pembangunan Jalan kereta api jalur Bandung-Ciwidey sepanjang + 40,396 Km baru selesai tahun 1924. Pembangunan dimulai dengan jalur Bandung-Soreang melewati kiaracondong sepanjang 29 Km & selesai dibangun pada Februari 1921, sedangkan dari Soreang menuju Ciwidey sepanjang + 11,396 Km baru selesai sekitar tahun 1924 (dalam buku jendela Bandung). Tetapi dari Koran harian PR tanggal 22 Januari 2010 dikatakan “berdasarkan catatan, jalur kereta api Bandung-ciwidey mulai beroperasi tahun 1923”. Nah perbedaan tahun ini manjadi menarik untuk diperbincangkan sambil minum kopi atau nge-teh di sore hari nih!

Berdasarkan beberapa data jalur kereta Bandung-Ciwidey merupakan satu diantara lima belas jalur kereta api yang sudah tidak diaktifkan dalam kurun waktu sekitar tahun1942 -1970, namun tidak seperti bekas jalur kereta api yang lain jalur kereta Bandung-Ciwidey ini masih tergolong yang paling utuh walaupun sudah banyak ditumbuhi oleh pemukiman penduduk disekitar jalur kereta bahkan ada yang mendirikan bangunan diatas bantalan rel dan ada sebagian besi rel yang dicuri dengan menggergajinya ataupun mengambil bantalan rel untuk dijadikan suluh(kayu bakar).

Menyusuri jalur ini kita akan disuguhi pemandangan alam yang indah berupa pegunungan, bukit-bukit kecil, hutan bambu yang teduh dan hamparan sawah yang mulai menguning tanda siap dipanen dalam beberapa minggu kedepan. Dapat dibayangkan seandainya jalur kereta ini masih beroperasi mungkin saya akan duduk dekat jendela sambil makan cemilan ditemani secangkir teh hangat yang disajikan oleh mojang Bandung anu geulis sambil senyum sumringah tea! Waduh mantep euy……

Selain bisa menikmati pemandangan tadi ternyata kita juga masih dapat melihat peninggalan-peninggalan lainnya, mulai dari jalur rel kereta api, bangunan-bangunan bekas gudang & Stasiun, selokan-selokan pengairan, tempat mengisi air untuk lokomotif uap, jembatan-jembatan rel kereta yang masih gagah walau telah dimakan usia, hingga tempat pemutaran lokomotif/Jembatan putar (yang kini telah berubah menjadi WC umum).

Dan bagi para penggemar film mungkin sudah tidak asing lagi dengan salah satu jembatannya, yaiu jembatan Ciantik yang pernah digunakan untuk pengambilan gambar dalam film berjudul “Oeroeg” pada tahun 1997 bagaimana saat itu terjadi pertukaran sandera antara pribumi (Oeroeg) dengan orang Belanda dengan perbandingan yang tidak sebanding karena satu orang Belanda dengan banyak pribumi.

Ada beberapa alasan dibukanya jalur kereta ini, diantaranya untuk menghubungkan daerah Bandung dengan daerah-daerah yang menjadi sentra perkebunan, untuk mengangkut para penduduk yang hendak ke kota baik itu untuk membeli kebutuhan sehari-hari, mengadu nasib dengan menjajakan makanan/jajanan atau menjadi buruh tani di musim kemarau.

Menurut cerita beberapa penduduk ketika jalur ini masih aktif Bandung adalah tempat yang dituju untuk membeli kebutuhan sehari-hari, dimana bahan pangan didapat disekitar stasiun Bandung, bahan sandang didapat di Pasar Baru dan barang elektronik didaerah Banceuy (Jl. ABC, masih sama seperti sekarang). Biasanya para penduduk menumpang kereta pertama jam 04.00 WIC (Waktu Indonesia bagian Ciwidey) dan kembali pulang dengan kereta terakhir dari Bandung jam 17.30 WIC. Bahkan pada saat itu di stasiun Ciwidey terdapat banyak orang gila, ada yang memang iseng ikut kereta dan tidak sedikit juga yang sengaja dibuang dari Bandung.

Ketika masih beroperasi kereta ini memiliki jadwal dua kali keberangkatan. Dua kali dari stasiun Bandung dan dua kali dari stasiun Ciwidey. Jalur Bandung-Ciwidey dimulai dari persimpangan jalur di Stasiun Kiaracondong menyusur kearah Dayeuhkolot, Baleendeh dan Banjaran. Di Banjaran sendiri terdapat persimpangan kearah selatan menyusuri kawasan pertanian, perkebunan dan pertambangan belerang hingga berakhir di Ciwidey.

Penutupan Jalur kereta api Bandung-Ciwidey ini terjadi setelah adanya kecelakaan rangkaian kereta api yang ditarik dengan lokomotif seri BB di kampung Cukanghaur (terletak diantara stasiun Cisondari dan Sadu) kecamatan Pasirjambu pada 7 Juli 1972 yang mengakibatkan dua hingga tiga orang tewas dan beberapa orang lainnya luka-luka. Kecelakaan ini diduga akibat kelebihan beban muatan yang membawa kayu pinus untuk dikirim ke Jakarta.

Mengenal & mempelajari sejarah menjadi lebih menyenangkan bila kita menggunakan metode belajar sambil bermain dan langsung terjun ke lapangan, sehingga kondisi terbaru seputar tempat-tempat tersebut bisa kita dapat dan kitapun memiliki sebuah dokumentasi serta catatan perjalanan yang takkan terlupakan.

Sumber Bacaan:

Jendela Bandung Karangan Her Suganda

Koran Harian Pikiran Rakyat Tanggal 22 Januari 2010

The Jakarta Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s